Type something and hit enter

author photo
By On
Sabung Ayam Online dengan Promo Bonus Terbaik Indonesia
BAB I
PENSIUNAN AMAL
وحدثناابوبكربن ابى شيّبة وابوكريب وابن ابى عمرواللفط لا بى كريب قالم احدثناابومعاوية عن الا عمش عن ابي عمر والشيبان عن ابى مسعودالا نصا رى قال : جاء رجل الى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ابدع بى فاحملنى فقال ما عندى فقال رجل يارسول الله اناادلّه عل من يحمله فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من دلّ على خير فله مثل اجر
فا عله..رواه مسلم
Pemaknaan lafadz hadits :
ابدع بى  : Aku tidak memiliki hewan tunggangan. Disebagian naskah disebutkan dengan lafadz يدعبى  , Al Qodli juga menukilkan hal itu dari mayoritas perawi hadits dalam shahih Muslim lalu menyatakan,”Yang benar adalah lafadz yang pertama dan yang populer dalam bahasa Arab.”[1] Sabda Nabi Muhammad saw., من دلّ على خير فله مثل اجرفا عله  “Barangsiapa menunjukkan kebaikan maka ia mendapatkan seperti orang yang melaksanakan kebaikan itu”.[2]
Terjemahan Hadits :
Dan Abu Bakar bin Abu Syaibah, Abu Kuraib serta Ibnu Abu Umar telah memberitahukan kepada kami Lafadz ini untuk Abu Kuraib, mereka berkata, Abu Muawiyah telah memberitahukan kepada kami dari Abu Al Anshari, ia berkata :”suatu ketika ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi saw, lalu ia berkata “Sesungguhnya aku tidak memiliki hewan tunggangan, oleh karena itu bawalah aku”, maka Nabi menjawab “Aku tidak punyaa”, kemudian ada orang lain yang berkata “Wahai Rasulullah ! Aku akan menunjukkan kepadanya orang yang bisa membawanya”, maka Rasulullah saw, bersabda :”Barangsiapa menunjukkan kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan kebaikan itu” (HR. Muslim)
Tahrij Hadits :
1.        Abu Dawud di dalam Kitab Al Adab, Bab Fii Ad-dal Alaa Al Khoir (nomor 5129);
2.        At Tirmidzi di dalam Kitab Al Ilmu, Bab Maa Jaa’a Fii Ad-Daal Alaa Al Khoir kafaa’ Ilihi (nomor 2671).[3]

Hadits di atas senada dengan hadits berikut ini yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin.

عن أبى هريرة رضي ا لله عنه أن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال : من دعا الى هدى كان له من ألأجرمثل أجور من تبعه لا ينكص ذلك من أجو رهم شيأاومن دعاالى ضلا لة كان عليه من الاثم مثل من تبعه لاينقص ذلك من اثا مهم شيأا. 

Artinya : “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mengajak kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi dari dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)


عن أبى اعبّاس سهل بن سعدالسّاعديّ رضي الله عنه أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال يوم خيبر : لأعطينّ الرّاية غدارجلا يفتح الله على يديه يحبّ الله و رسوله, ويحبّه الله و ر سوله, فبات النّاس يدوكون ليلتهم أيّهم يعطا ها فلمّاأصبح النّاس غدوا على رسول الله صلّى الله عليه وسلّم كلّهم يرجو أن يعطا ها فقال : أين عليّ بن أبي طالب ؟ فقيل : يا رسول الله هويشتكي عينيه قال : فأرسلوا اليه فأتي به وجع فأعطاه الرّاية فقال عليّ رضي الله عنه : يارسول الله أقاتلهم حتّى يكونوامثلنا ؟ فقال : انفذعلى رسلك حتّى تنزل بساحتهم ثمّ ادعهم الى الاسلام وأخبرهم بمايجب عليهم من حقّ الله فيه, فوالله لأن يهدي الله بك رجلاواحداخيرلك من حمرالنعم. (متفق عليه)                                                   

Artinya : “Diriwayatkan dari Abul Abbas Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Ketika Perang Khaibar Rasulullah Shalllahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku akan berikan bendera kepada seorang lelaki, dengan tangannyalah Allah akan memberi kemenangan, yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semalaman orang ramai berbicara siapakah gerangan yang akan diberi bendera oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Keesokkan harinya mereka pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi bendera itu kepada mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, ‘Dimanakah Ali bin Abi Thalib?’ Ada yang mengatakan, ‘Ya Rasulullah, beliau sedang sakit mata’. Kemudian, mereka pergi untuk mencari Ali dan membawanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meludah kedalam matanya serta berdoa untuknya. Setelah itu,mata Ali terus sembuh seperti sebelumnya, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan bendera itu kepadanya. Ali Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Wahai Rasulullah ! Aku akan memerangi mereka sehingga mereka akan seperti kita. ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,’Lakukan dengan hati-hati sehingga kamu sampai ke wilayah mereka, kemudian serulah mereka pada agama Islam dan beritahu mereka tentang kewajiban mereka terhadap hak Allah. Demi Allah, sekiranya seseorrang lelaki diberi petunjuk oleh Allah karena kamu, adalah lebih baik bagimu dari pada memiliki beberapa ekor keledai.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Kandungan Hadits :
An-Nawawi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja yang mengajak kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun.”
            Mengajak kepada kebenaran berarti menjelaskan kebenaran kepada manusia dan mengajak untuk mengerjakannya. Seperti menjelaskan kepada manusia bahwa shalat dua rakaat dhuha hukumnya sunah,kemudian ia mengerjakannya, lalu diikuti oleh orang banyak dan mereka juga mengerjakannya, maka orang itu akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka semua tanpa dikurangi dari pahala mereka karena karunia Allah sangat luas.

Hadits-hadits di atas mengandung faedah yang berharga :
a.         Keutamaan menunjukkan jalan menuju kebaikkan kepada orang lain, memberikan perhatian atasnya dan memberi bantuan kepada oarang yang melakukannya.
b.        Seorang mukmin hendaknya dapat menjadi qudwah (suri tauladan) dan panutan yang baik dalam segala hal amal-amal kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :

tûïÏ%©!$#ur šcqä9qà)tƒ $oY­/u ó=yd $oYs9 ô`ÏB $uZÅ_ºurør& $oYÏG»­ƒÍhèŒur no§è% &úãüôãr& $oYù=yèô_$#ur šúüÉ)­FßJù=Ï9 $·B$tBÎ)
Artinya : Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqan : 74).[4]
c.         Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang menunjukkan manusia pada jalan kebaikan, baik hal itu merupakan kebaikkan di dunia maupun kebaikkan di negeri akhirat : akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala dari orang yang mengerjakan perbuatan itu, tetapi pahala itu hanyalah ia dapatkan karena contoh baik yang telah ia tunjukkan dalam beramal yang dengan sebab itu seseorang mengikutinya dan beramal dengannya.
d.        Di antara seutama-utamanya amal shaleh yang manfaatnya berimbas pada umat manusia secara umum yang hasilnya akan tetap mengalir yaitu ilmu yang bermanfaat, yang mana ia adalah merupakan yari’at Allah dari pohon hingga kecabangnya dan apa-apa saja yang menjadi sebab mudanya seseorang untuk memahaminya. [5]
e.         Menunjukkan kepada kebaikkan adalah merupakan dakwah yang wajib untuk dilaksanakan, sementara hubungan dakwah dengan pendidikan adalah sangat erat sekali diantaranya adalah :
1.           Dilihat dari segi sasarannya, dakwah dan pendidikan memiliki sasaran yang sama, yaitu manusia. Bedanya dalam berdakwah sasarannya, ada yang dikelompokkan dan terkadang ada yang tidak dikelompokkan, sedangkan dalam pendidikan sasarannya lebih terklasifikasi perbedaan usia, dan lain sebagainya.
2.           Dilihat dari ruang lingkup atas materi yang disampaikan dalam dakwah dan pendidikan, tampak memiliki persamaan-persamaannya, adalah bahwa ruang lingkup atau materi dakwah dan pendidikan pada intinya sejalan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
3.           Dilihat dari segi tujuannya, antara dakwah dan pendidikan juga erat kaitannya yaitu sama-sama bertujuan mengubah sikap mental manusia dengan cara diberikan motivasi dan ajakan-ajakan agar orang tersebut melakukan ajaran Islam dalam arti yang seluas-luasnya, sehingga ia dapat melaksanakan fungsi kekhalifahannya dalam rangka beribadah kepada Allah.
4.           Dilihat dari segi caranya juga terdapat persamaan antara dakwah dan pendidikan, persamaannya dalam berdakwah sebagaimana dikemukakan di atas palaing kurang dapat dilakukan dengan dengan tiga cara, yaitu dengan hikmah, man’dhoh hasanah dan mujadalah. Dalam pendidikan tiga cara tersebut dapat juga dilakukan, hanya saja dalam pendidikan lebih luas dan lebih banyak variasinya, seperti ceramah, diskusi, keteladanan, kisah, sosio drama, simulasi, problem solving, karya wisata, penugasan dan lain sebagainya.
5.           Dilihat dari segi hukumnya, terdapat pula persamaan antara dakwah dan pendidikan, yaitu ada yang termasuk kategori yang hukumnya wajib bagi semua (fardhu ain) dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Dakwah dan pendidikan hukumnya wajib dilakukan oleh setiap orang manakala yang di maksud arti umum, yaitu dilakukan kapan saja, di mana saja dan dengan cara apa saja.[6]
KESIMPULAN

1.        Hadits di atas termasuk hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad yang bersambung.
2.        Pegangan Kitab Subulussalam (Asskonawy) tidak banyak membahas tentang kedudukan sanad, sebab menurut penulis kemungkinan karena perawinya adalah Muslim.
3.        Pahala akan terus mengalir kepada kita manakala kita senang bisa menunjukkan kebaikkan kepada orang lain.
4.        Hadits di atas cukup erat kaitannya bila di hubungkan kepada pendidikan, karena mendidik adalah termasuk menunjukkan dan membimbing kepada kebaikkan. Pendidikan Islam menempati posisi sentral dalam upaya mensosialisasikan ajaran-ajaran Islam, baik secara individu maupun sosial diberbagai aspek kehidupan manusia. Pendidikan Islam berkepentingan menginternalisasikan nilai-nilai Iman, Taqwa dan Moral kepada anak didik agar memiliki komitmen yang religius.


REFERENSI

1.             Abdurrahman Abdullah, “Terjemah Syarah Bulughul Maram”, Pustaka Azzam 2006.
2.             Anawawi Iman, “Syarah Shohih Muslim”, Darussalam, jilid 9, 2011.
3.             Muhammad Al-Utsaimin, “Syarah Riyadhus Shalihin”, Darul Falah, Jakarta, 2005.
4.             Depag, Tafsir Al Qur’an. 1990.





[1] Annawawi Iman “Syarah Kitab Muslim” Darussalam 2011, hlm. 286.
[2] Ibid, hlm. 286
[3] Ibid, hlm. 281
[4] Al Basan Abdurrahman “Tarjamah Bulughul Maram”, Pustaka Azzam 2007, hlm. 418
[5] Ibid, hlm. 418
[6] Nata Abuddin, “Tafsir ayat-ayat Pendidikan”, PT. Raja Grafindo Persada 2001, hlm. 196

Click to comment