Type something and hit enter

author photo
By On
Sabung Ayam Online dengan Promo Bonus Terbaik Indonesia
*Oleh : Debu Yandi

Sebagai mahasiswa tentunya kita tahu apa itu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), sebagai kontrol kebijakan, media informasi, komunikasi, penyalur aspirasi mahasiswa yang secara profesional bergerak dibidang jurnalistik. Perguruan Tinggi/ Universitas di Kalimantan Tengah yang saya tahu hanya ada 3 (tiga) LPM yang terbentuk, yakni LPM IAIN Palangkaraya, LPM Pencerah Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, dan LPM Universitas Palangkaraya. Ironis memang jika melihat kenyataan ini, artinya tingkat mahasiswa peminat jurnalistik di kota Palangkaraya pada khususnya dan Kalimantan Tengah pada umumnya sangatlah sedikit, dan kalau dihitung dari pengurus/ anggota yang aktif hanya berkisar 5-10 orang dari masing-masing LPM yang ada. Ini sebuah fakta, padahal kalau dilihat dari peran LPM itu sangatlah penting di sebuah kampus. LPM juga merupakan suatu lembaga yang independen, tidak ada interpensi dari suatu individu atau golongan tertentu.

Apa yang salah dalam hal ini? Pimpinan Perguruan Tinggi/ Universitas di Kalimantan Tengah menurut saya keterbukaan sangatlah tinggi dalam hal menyalurkan bakat dan minat para mahasiswa, pernyataan ini dibuktikan dengan jumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bersifat internal dan organisasi kemahasiswaan (eksternal) yang ada di masing-masing kampus. Sebagai perbandingan, di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya jumlah mahasiswa mencapai 4-5 ribu orang, dan peminat pada pelatihan jurnalistik berkisar 30 orang, namun yang memiliki jiwa dan hobi dibidang jurnalistik hanya 5-10 orang, mereka inilah yang aktif menjadi pengurus sebuah LPM kampus. Jadi, tidaklah salah jika dikatakan bahwa mahasiswa peminat jurnalistik di Kalimantan Tengah sangatlah kurang.

Pelatihan-pelatihan jurnalistik untuk mahasiswa kerap kali dilaksanakan, dan hal ini hanya mampu menumbuhkan semangat bagi mahasiswa yang dulunya tidak tahu dan hanya sekedarnya tahu tentang jurnalistik. Pelatihan ini juga hanya mengulas tentang teori-teori seputar jurnalistik, sebagai contoh teori "Piramida Terbalik" para peserta tahu bahwa metode ini menjelaskan penyajian informasi secara berurutan dengan mengedepankan atau memprioritaskan fakta-fakta penting. Konsep penyajian informasi dengan pendekatan ini adalah menyajikan informasi langsung ke dalam pokok persoalan. Gaya penulisan ini ditandai dengan pemuatan kalimat pertama (lead) secara maksimal dengan memasukkan unsur informasi terpenting. Namun, bagaimana cara membuat tulisan berita dengan metode ini yang mereka tidak bisa, lebih tepatnya peserta pelatihan matang secara teori namun nol secara praktik. Jadi jelas bahwa pelaksanaan pelatihan jurnalistik hanya mengulas teori-teori jurnalistik, namun tidak secara riil untuk dipraktikkan, sehingga akan muncul mahasiswa yang hanya cerdas secara bahasa namun tidak mampu untuk menulis.

Click to comment