Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi
BLOGGER KALTENG - Sambil Ngopi dan celupan roti seadanya pagi ini saya menelusuri tentang tragedi kebakaran dan kabut asap tahun 2015 lalu. Berikut hasil review singkatnya: 

Mungkin masih segar dalam ingatan kita tentang bencana Kabut Asap tahun 2015 lalu, namun ada juga yang menyebutnya musim baru di Indonesia terutama di Kalimantan Tengah. Tahukah anda, bahwa kebakaran hutan di Indonesia tahun lalu mencatat rekor sebagai (berpotensi) terparah dalam sejarah (NASA: 2015). Penyebabnya adalah fenomena el Nino, yang membuat kondisi cuaca mengering dan memperpanjang kemarau. Imuwan NASA meyakini, situasi tahun ini serupa dengan tahun 1997, tercatat sebagai bencana kabut asap paling parah dalam sejarah.

Dampak kabut asap diperkirakan capai Rp 200 trilliun rupiah. Angka ini melebihi kerugian di tahun 1997, padahal jumlah lahan yang terbakar jauh lebih sedikit (CIFOR, Herry Purnomo: 2015).

Sambil Ngopi dan celupan roti seadanya pagi ini saya juga menelusuri  Eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Pulang Pisau. Untuk diketahui Kabupaten Pulang Pisau, menjadi salah satu kabupaten yang paling parah terbakar tahun lalu di Kalteng. Padahal kabupaten ini luasnya hanya 5,85 persen (8.997 km2 dari luas Kalteng 153.564 km2). 

Bagaimana situasi Eks PLG saat ini? Simak review artikelnya di : Lahan Gambut Eks PLG Satu Juta Hektar, Bagaimana Kabarnya Saat ini? Baca juga : Pemberitaan Kompas (Eks Lahan Gambut Sejuta Hektar dan Suara Kalteng yang Tak Didengar Pusat)

Apa yang anda pikirkan?


#ElNino persists, positive Indian Ocean Dipole emerges, but warm Indian Ocean eases impacts http://t.co/j4kNt3qLSZ pic.twitter.com/X39lgePOks

— BOM Australia (@BOM_au) 29 September 2015



2 komentar

avatar

mantap tulisan nya bang!!
kalau ada waktu kunjungan nya
http://sangkaicity.blogspot.co.id/2015/11/palangka-raya-bantas-kabut.html

avatar

itu hanya iseng ngereview aja..hahaha
kapan kita ngumpul2 nih?

Click to comment