Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi

(oleh: Yandi Novia)
Manusia adalah makhluk sosial. Itu merupakan sunnatullah. Atau dengan kata lain, manusia, menurut fitrahnya, adalah makhluk bermasyarakat. Bukan makhluk hidup sendirian, tapi manusia adalah makhluk terhormat dan bermartabat yang hidup bersama dengan yang lain. Mereka hidup saling bergantung. Karena kesadaran masing-masing bahwa di samping memiliki kelebihan, juga pasti memiliki kekurangan. Secara umum, antara yang satu dan yang lain tidak terlepas karena saling menghajatkan atau memerlukan. Mereka saling memberi dan menerima. Sehingga dikenal dalam ungkapan sehari-hari bahwa adat hidup adalah tolong menolong.
Dalam kenyataan, kita masih sering menyaksikan, sebagian manusia dalam hidup hanya mementingkan diri sendiri. Yang kaya terus bertambah kaya dengan segala cara, tapi tidak mau tahu terhadap tanggung jawab sosialnya. Yang berkuasa menggunakan kekuasaannya bukan untuk menegakkan keadilan dan menyejahterakan rakyat, tapi untuk menyengsarakan rakyat. Para penegak hukum malah melanggar hukum. Sedangakan mereka yang berpendidikan dan berilmu seharusnya melaksanakan tugas pendidikan secara baik dan mencerdaskan masyarakat luas, namun yang dilakukan malah sebaliknya. Mereka masing-masing jalan sendiri, tidak ada kerja sama secara serius.
Di antara 114 surat dalam Al Qur’an, ada Surat An-Naml dan Surat An-Nahl. Disebut Surat An-Naml (Semut) karena nama semut terdapat dalam ayat 18 dan 19. Dalam ayat 18 ada seekor semut mengatakan kepada teman-temannya agar mereka segera bersembunyi kedalam sarang. Karena tentara Nabi Sulaiman a.s akan lewat di tempat itu. Agar mereka tidak diinjak-injak oleh Nabi Sulaiman a.s dan bala tentaranya. Pada ayat 19 diterangkan bahwa apa yang dikatakan oleh seekor semut itu didengar oleh Nabi Sulaiman a.s dan beliau paham akan artinya, lalu beliau bersyukur kepada Allah atas ilmu yang telah diberikan oleh-Nya kepadanya. Sedangkan disebut dalam Surat An-Nahl (Lebah) karena dalam ayat 68 dibicarakan bahwa Allah memberikan ilham atau naluri kepada lebah. Agar ia membuat sarang di gunung, pohon, atau pun di bubungan rumah, lalu menghirup buah dan kembang untuk menghasilkan madu yang merupakan obat yang mujarrab bagi berbagai penyakit. Semut dan lebah disebut dalam kedua Surat tersebut tentulah agar kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) yang baik. Semut ketika bertemu saling berkomunikasi, memberi informasi, dan bekerja sama secara teratur serta rapi ketika membangun sarangnya. Demikian pula lebah ketika membuat sarangnya menunjukkan kerja sama serupa dan madu yang dihasilkan adalah hasil kerja kolektif.
Manusia sebagai makhluk sosial, mempunyai kecenderungan hidup bersama dan hidup dalam naungan kebersamaan. Ini merupakan inti dari eksistensi manusia.  Dengan jalan bersama dan dalam kebersamaan, insya Allah, siapa pun dapat keuntungan, tidak dirugikan, dijaga, dan mendapatkan keridhaan Allah. Islam yang kita yakini adalah sebagai Agama Allah yang diwahyukan kepada Rrasulullah Muhammad saw menegaskan tentang betapa tingginya nilai keutamaan ibadah apabila dilaksanakan secara berjamaah. Shalat fardhu lima waktu, sebagai contoh dalam hal ini Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dari pada shalat yang dilakukan sendirian” (HR Muslim). Shalat Jum’at seminggu satu kali dilakukan secara berjamaah. Shalat-shalat Idul Fitri, Idul Adha, Istisqa’, dan Khauf dilakukan pula dengan berjamaah. Sementara itu, puasa Ramadhan selama satu bulan adalah bentuk ibadah kebersamaan dan persamaan dalam menahan rasa lapar dan dahaga serta bersebaran antara suami-isteri pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan Haji adalah pertemuan tahunan umat Islam se dunia, bagi yang mampu melakukannya, pada waktu bersamaan tanggal 8 s.d 13 Dzulhijjah.
Kebersamaan yang kita jalin selalu berorientasi pada keikhlasan karena Allah. Akidahlah yang mengikat hati dan semangat untuk berbuat. Akidah adalah ikatan yang paling kuat dan paling berharga. Juga sebagai kekuatan pertama untuk menghimpun kekuatan persatuan. Dan tidak ada persatuan tanpa cinta. Minimalnya cinta adalah dengan melapangkan dada satu sama lain. Sedangkan tingkatan cinta yang paling tinggi adalah itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain dari pada dirinya. Meski dirinya juga memerlukan. Itulah sikap dan perbuatan yang diperlihatkan dan ditunjukkan oleh kaum Anshar ketika menyambut dan menerima kedatangan saudaranya seakidah, kaum Muhajirin, di Madinah. Teladan baik itu tentu harus kita contoh. Apalagi di negeri kita sedang banyak dilanda musibah yang datang silih berganti. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain” (QS At-Taubah [9]: 71). Sementara itu Rasulullah saw bersabda, “Orang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya” (HR Muslim).
Kebersamaan (berjamaah) jelas sangat urgen atau penting. Dengan hidup berjamaah, kita dapat berbuat banyak dan dapat menghadapi serta menyelesaikan banyak masalah. Sebab, dengan hidup berjamaah berarti kita bersatu, memiliki kekuatan, saling bekerja sama, membantu, dan menolong. Hal yang demikianlah yang ku rasakan dan tanpa sadar, suatu proses natural dengan sikap profesional, saling hidup berjamaah; saling menyapa, saling berbagi dan saling membimbing. Penanaman nilai dari ayat ke 3 dari Surat Al-Ashar, yaitu “nasihat-menasehati dengan kebenaran dan nasihat-menasehati dengan kesabaran”Lihatlah sebuah bangunan, ia begitu kokoh dan indah. Salah satu sebabnya karena bangun tersebut tersusun atas bahan-bahan yang berbeda. Satu bahan dengan bahan lainnya saling menguatkan. Ada batu yang keras, ada kerikil yang kecil dan tajam, ada beton yang kokoh, ada semen, dan ada pula air yang lembut tapi mempersatukan. Alangkah indah kebersamaan dalam perbedaan. Tapi lihatlah toko material. Di sana terdapat segala macam bahan bangunan, dari mulai yang termahal hingga yang termurah, dari yang kecil hingga yang besar. Tapi bermanfaatkah? Walaupun banyak dan beraneka ragam, barang-barang di sana tidak bisa diambil manfaatnya secara maksimal. Penyebabnya, satu sama lain tidak berhubungan, terpecah belah, dan tidak menempati posisi yang sebenarnya.
Begitu pun dalam hidup bermasyarakat. Setiap individu atau komponen masyarakat tidak akan mampu bersama, membentuk bangunan bangsa yang kokoh dan indah, apabila tidak ada persatuan di dalamnya. Dan, persatuan serta kokohnya bangunan bangsa harus berdiri di atas perbedaan. Semoga Allah menuntun kita menjadi orang yang bijak dan terpelihara.



Click to comment