Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi
Adakah setetes embunyang menyejukkan..sang mentari, biarkan menjadi saksiPerjuanganmu "wahai pemuda'..
Seorang Pemuda di tengah perjalanannya, terhenti karena taman bunga yang terlintas pandangannya. Bukan karena aroma bunga, tapi karena “Kupu-Kupu” yang berterbangan dengan elok dan cantiknya. Hingga akhirnya ia merasa lelah dan berbaring di kursi bawah pohon yang rindang. Matanya terus tertuju pada kupu-kupu yang terbang, sana-sini hinggap di hamparan bunga yang sedang mekarnya.
Tiba-tiba imajinasinya melayang, memikirkan bagaimana proses terjadinya makhluk yang Indah dan cantik tersebut. Sejenak dia berpikir : Dulu, ia hanya seekor ulat yang buruk rupa, hidupnya merayap di dahan dan dedaunan, dan kalau tidak beruntung hidupnya berakhir di makan burung atau serangga pemangsanya. Setelah matang menjalani kehidupan sebagai ulat, ia pun mencari tempat yang aman dan berubah menjadi kepompong. Badanya terbujur kaku menggantung di dahan dan dedaunan. Ia tak peduli walau siang hari panas terik menyengatnya, dan malam hari dingin menusuknya. Bahkan tak jarang hujan dan badai menerpanya. Ia tetap kokoh di tempatnya bersemedi untuk berubah menjadi diri yang baru, diri yang penuh pesona keindahan. Beberapa waktu kemudian, akhirnya keluarlah ia dari kepompongnya menjadi diri yang sama sekali baru, indah memukau dengan sayap barunya dan tubuh yang cantik, jauh beda dari wujut semula. Dan kini ia telah mencari kuntum-kuntum bunga yang indah untuk menghisap sari bunga dan menebarkan telur-telur penerus kehidupannya.
Begitulah metamorfosis sang kupu-kupu: dari telur ia menetas menjadi ulat, dari ulat ia menempa di dalam kepompong, dan dari kepompong lalu lahirlah kupu-kupu yang indah menawan. Tahap kehidupannya ia jalani dari generasi ke generasi, tanpa ada satu tahap pun yang dapat ia lompati. Tak ada seekor kupu-kupu manapun yang langsung menetas dari telur, malainkan keluar dari kepompongnya.

Click to comment