Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi
Hidup di kota tak ada yang gratis, apa lagi soal makan. Menjadi salah satu mahasiswa rantau seperti saya dan teman-teman saya yang menjadi penghuni asrama perlu kreatifitas. Terutama soal bertahan hidup. Mengisi perut, ya biar bias seperti orang kaya layaknya, makan 3 (tiga) kali sehari.

Namun, apalah daya, makan di asrama menjadi mahasiswa rantau itu (makan aja di jama’) artinya makan pagi untuk siang, atau makan siang untuk sore dan malam.

Hidup di kota Palangka Raya cukup mudah soal makan. Karena sangat mudah juga mencari sayur untuk makan, misalnya sayur kelakai (lambiding atau sayur jenis paku), sepanjang jalan raya mudah untuk dijumpai.
Saya dan teman-teman yang lainnya lebih mendayagunakan tanah kosong di halaman rumah (asrama) untuk bercocok tanam. Dan tentunya sayuran yang menjadi pilihan untuk ditanam juga penuh pertimbangan. Pertimbangannya, pertama sayuran itu mampu bertahan lama, walaupun setiap hari dimasak. Kedua, mempunyai kandungan gizi yang lumayan. Ketiga, mampu hidup dalam kondisi dan situasi yang kurang perawatannya (maklum, kan mahasiswa pada sibuk).


Pilihan kami jatuh pada sayuran daun singkong dalam bahasa dayaknya dawen konjoi. Terbukti, kami hanya perlu 2 (dua) kali dalam satu tahun untuk memperbaharui tanaman ini. Setiap 6 (enam) bulan sekali, tanaman daun singkong ini kami cabut kemudian tanahnya di olah kembali dan batang-batangnya kami tanam kembali.

Tak hanya sayuran ini yang kami tanam, cabe juga salah satu tanaman yang kami tanam. Mengingat harganya yang kadang molanjak naik, dan cepat sekali habisnya, maka menanamnya adalah salah satu pilihan cerdas untuk bertahan.

Click to comment