Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi
Ada pertanyaan mendasar yang saya coba tanyakan kepada  Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Ibu Siti Maimunah, M.P., terkait tentang suplai asap dan kadang para petani yang membakar lahannya dijadikan kambing hitam. Obrolan singkat via messenger saya lebih kepada permasalahan mengenai budaya petani Kalteng yang sebagian besar mengandalkan bertanam dengan sawah tadah hujan.

Berikut ini hasil obrolan singkat saya:
Bu.. mau tanya, apa solusi buat para petani yang masih bertani dengan sawah tadah hujan (lahan harus dibakar dulu). Kebanyakan kendalanya kenapa mereka tidak beralih ke sawah irigasi karena: 1) Kurangnya SDM, 2) Keterbatasan sarana dan prasarana, 3) Lahannya hampir tidak ada, karena kebanyakan daerah perbukitan.

Karena kalau dengan irigasi harus olah tanah, yang repot mindset masyarakat kadang maunya yang cepat menghasilkan. Kalau sistem padi lahan keringkan habis bakar ditanam beres, gak repot, apalagi untuk perbukitan. Rumit harus ada air, masyarakat hanya mengandalkan kesuburan alami tanpa harus olah tanah dulu, lain halnya dengan yang diberi air irigasi, hasilnya jauh lebih bagus yang irigasi.

Lalu, harus dimulai dari mana?

Ubah dulu mindset masyarakat, beri contoh bagaimana cara bertani yang benar bandingkan dengan cara konvensional mereka.
***

Click to comment