Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi

Sebuah adagium sederhana yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia adalah "Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan" #AskBNI merupakan satu langkah "solusi" yang menunjukkan kecerdasan seseorang. Jika hal ini tidak dilakukan, maka bisa diperkirakan akan banyak orang nyasar kemudian diberitakan hilang, menumpuk siswa yang tidak naik kelas, para travelling kehabisan ongkos sebelum sampai tujuan, populasi "jomblo dan single" terus naik pada angka yang semakin tinggi karena alasan sepele nggak mau bertanya apakah si pujaan hati mencintainya atau tidak. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi kemiskinan akan terus menghantui rakyat Indonesia hanya karena nggak mau bertanya perihal lowongan pekerjaan, terakhir yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah angka perceraian melonjak naik akibat sepasang suami istri yang enggan bertanya kekurangan, kelebihan, hal yang tidak disukai dan disukai masing-masing.

Bertanya itu cerdas #AskBNI, dan hanya mereka yang peduli akan masa depannya yang mau bertanya dan tidak malu untuk bertanya. Mereka yang dengan ikhlas dan profesional memberikan jawaban adalah guru dengan penuh tanggungjawab menunjukkanmu bahwa hidup itu mudah dengan prinsip "Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan" #AskBNI.

Bertanya itu mudah, murah, gratis, cepat, akurat, dan yang pasti kamu bisa sambil duduk ngopi bareng teman-temanmu. Adalah langkah cerdas dan mencerdaskan yang dilakukan oleh BNI via akun twitter @BNI46 dengan hashtag #AskBNI dengan informasi lengkap yang diberikannya. Semua orang tentunya pernah mengalami kesulitan bahkan sulit untuk menentukan pilihan, lebih-lebih jika hal itu sangat substansial dalam hidupnya.

Keseharian kita dengan dunia yang terasa sempit (efek dunia digitalisasi) memudahkan untuk mencari jalan keluar dari kesulitan, pilihan, masalah, tantangan, dan antara baik buruknya kehidupan. Yukk...simak kisah saya berikut ketika dihadapkan dalam dua pilihan usai lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) antara melanjutkan Kuliah dan Nyantri di Pesantren. Cerita ini tentang "Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan" #AskBNI yang baru pagi ini saya sadari setelah selama ini terlewatkan begitu saja, berikut kisahnya:

Pertengahan tahun 2010 menjadi awal proses kedewasaan saya untuk melanjutkan perjalanan kesuksesan, karena pada saat itu saya baru menyelesaikan Sekolah Menengah Atas dan mulai memperkirakan kemana harus melangkah. Keberuntungan saya adalah dihadapi antara dua pilihan yakni mejadi mahasiswa di salah satu Universitas terbesar di Kalimantan Tengah atau menjadi santri di salah satu Pondok Pesantren di Pulau Jawa. Jujur pada saat itu keinginan menjadi santri lebih besar, karena alasan ingin lebih mendalami belajar agama. Disamping itu orang tua lebih menganjurkan tinggal bersama kakek di Kota Palangka Raya untuk melanjutkan kuliah, karena kakeklah yang berniat kuliahkan saya.

Hal ini menjadi dilema besar pada saat itu, hingga saat ini saya masih ingat betapa sulitnya saya menentukan pilihan. Satu bulan lamanya proses untuk menentukan pilihan yang tepat, saya bertanya kepada siapa saja mulai dari kedua orang tua, kedua abang saya, tokoh agama di desa, pengusaha, tokoh politik, sebagai perbandingan saya bertanya kepada orang-orang yang pernah nyantri dan pernah jadi mahasiswa. Hingga akhirnya pilihan saya jatuh pada kuliah, dengan alasan ketika itu adalah lulus kuliah dengan gelar Sarjana lebih mudah mencari kerja dan menjamin masa depan.

Tiba saatnya, saya ke Kota Palangka Raya bermodal tekad yang kuat untuk mengubah masa depan dan status orang tua saya, saat itu saya masih belum tau persis jurusan apa yang dipilih oleh kakek. Singkat cerita masa pendaftaran calon mahasiswa baru dimulai, pada waktu mengisi formulir saya memilih jurusan Pendidikan Agama Islam di Prodi Tarbiyah, karena yang saya tau dari pernyataan kakek sebelum saya kekampus "kamu masuk di Fakultas Agama Islam yaa, dan nanti akan ada dua tahap seleksi, seleksi umum dan khusus penerima beasiswa", lebih-lebih ini juga salah satu saran dari Kepala Sekolah SMA yang kebetulan Sarjana Agama (S.Ag) dalam bidang pendidikan.

Proses pendaftaran selesai, dan saya sudah merasa mantap dengan pilihan saya, mula berkhayal menyandang gelar S.Ag (Sarjana Agama). Sebelum melalui proses seleksi saya mulai mencari-cari calon mahasiswa lainnya yang satu Fakultas dengan saya nantinya, dan mulai berkenalan satu sama lain. Pertanyaan standar tentunya yang diajukan mulai dari nama, asal sekolah, tinggal di mana, dan asal dari mana. Perbincangan kami mulai asyik dan serius dan sampai pada masalah beasiswa di Fakultas.
"Katanya dengar-dengar beasiswa di Fakultas kita hanya ada di jurusan Ahwal Al Syakhsyiyyah (Peradilan Agama), gak ada di jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam)", ungkap salah satu teman saya.

Saya terkejut dan langsung bertanya "hah (dengan nada terkejut), tau dari mana infonya?". "Itu di mading Fakultas, jelas infonya", ungkap salah satu teman yang kebetulan jurusan itu.

Saya pun mulai gelisah dan bertanya-tanya dalam hati "Apakah saya salah ambil jurusan? Siapa yang akan membayar biaya kuliah saya nanti?" karena saya sadar dengan keuangan orang tua saya yang pas-pasan bahkan kadang kekurangan. Kakek juga pernah bilang saya akan mengikuti dua tahap seleksi, umum dan seleksi penerima beasiswa.

Kita pasti tau, bagaimana awal mula kondisi calon mahasiswa, pasti bingung ke sana-sini mencari informasi, dan masih agak malu-malu dengan suasana kampus bahkan takut untuk bertanya lebh-lebih kepada pengelola.

Saya dalam satu hari itu mencari kebenaran informasi perihal beasiswa, pertama saya menuju fakultas dan mambaca mading, ternyata informasi itu benar dan saya mulai merasa jurusan yang saya ambil salah. "Mungkin ini maksud yang kakek bilang", ungkap saya.

Kemudian saya mulai mencari cara, bagaimana memecahkan masalah ini, sedangkan berkas pendaftaran sudah masuk dan mungkin telah diproses. Fakultas buka sore pada saat itu, karena jadwal kuliah sore dan malam hari. Tidak ada cara lain selain bertanya langsung ke pada petugas penerima berkas pendaftaran calon mahasiswa baru. Apa yang kemudian saya dapatkan jawabannya adalah ketidaktahuan petugasnya, dan saya diberikan arahan untuk bertanya langsung kapada Kepala Biro Administrasi Umum (BAU). Saya masih ingat persis, hampir 1 jam saya mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu dan hanya duduk di teras depan sambil termenung memikirkan nasib. Sambil memperhatikan jam, sekitar 30 menit lagi istirahat, dengan tangan gemetar saya mengetuk pintu dibarengi suara perlahan mengucapkan salam. Tanpa mengetuk berkali-kali, terdengar suara untuk mempersilakan masuk cukup jelas dari dalam pintu. Ketika membuka pintu saya langsung dipersilakan duduk, kemudian saya bertanya perihal beasiswa yang ada di Fakultas Agama Islam.

"Kamu bertanya bukan pada tempatnya dan orangnya, persoalan beasiswa di fakultas itu yang lebih mengetahui adalah fakultasnya sendiri", ungkap Kepala BAU. Sambil menghela nafas saya bertanya lagi "jadi saya harus bagaimana Pak?". "Yaa kamu harus ke fakultas biar lebih jelas", ungkap beliau. Kemudian saya berpamitan, "walaupun belum mendapatkan jawaban tentang kejelasan info beasiswa itu, minimal saya telah mendapatkan sedikit jalan", ungkap saya menghibur diri.

Sore harinya, saya telah menunggu petugas Tata Usaha Fakultas untuk bertanya, hingga tiba saatnya saya bertemu dan mendapatkan jawaban langsung tentang beasiswa. Ternyata jurusan yang pertama saya pilih tidak ada beasiswa, sehingga saya disarankan untuk kembali menemui petugas penerima pendaftaran untuk kembali memproses berkas pendaftaran saya. Tidak mau berlama-lama lagi saya langsung menemui petugas dimaksud, dan kembali mengisi formulir dengan memilih jurusan Ahwal Al Syakhsyiyyah, sore itu juga sebelum adzan maghrib berkumandang semua urusan saya selesai.
Tiba saatnya seleksi umum para mahsiswa, tahap ini saya lalui dengan lancar, mudah, dan sukses seperti calon mahasiswa lainnya. Begitupun dengan tahap seleksi penjaringan beasiswa khusus jurusan yang saya pilih, dan 1 minggu setelah seleksi pengumuman kelulusan dikeluarkan, alhamdulillah saya lulus sebagai mahasiswa baru dan termasuk 4 orang yang mendapat beasiswa penuh S1 jurusan Ahwal Al Syakhsyiyyah.

Kewajiban selanjutnya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa adalah tinggal di asrama yang telah disiapkan fakultas. Beruntung, ungkapan "Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan" #AskBNI adalah sebuah kecerdasan, karena dengan ini saya memilih setelah lulus SMA melanjutkan kuliah dengan jurusan yang mendalami tentang Hukum Islam, tinggal gratis di asrama, mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus S1, dan kami yang di asrama pada saat itu sekitar 15 orang dari 3 angkatan dijuluki "Maha Santri" oleh Ustadz yang membimbing kami.

6 komentar

avatar

Pasti bangga ya, Mas, bisa menentukan pilihan dengan tepat.

avatar

apapun itu, pokoknya harus berani bertanya karena bertanya itu gratis dan menambah informasi

avatar

SETUJU!!! 😊
Karena dengan berani bertanya, tentunya kita akan mendapatkan informasi. Meskipun dalam kehidupan nyata, terkadang informasi itu tidak langsung tetap sasaran, tapi akan memberi jalan bagi kita untuk mendapatkan informasi sesuai tujuan yang kita harapkan 😊 good luck

avatar

bangga sangat, walaupun sedikit terlambat dan membutuhkan tenaga dan pikiran yang lebih ekstra..hehe

avatar

setuju... gak ada ngelarang untuk bertanya

avatar

sepakat... jalan bagi kita untuk menuju tumpuan yang lebih nyata

Click to comment