Type something and hit enter

author photo
By On
advertise here
SAMPIT- Langit Kotawaringin Timur pagi itu cerah menjelang pembukaan Musyawarah V Daerah Pemuda Muhammadiyah dan Musyawarah Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah III di Gedung Muhammadiyah Sampit, Sabtu Maret 2016. Rombongan kami dari wilayah disambut dengan segelas teh hangat dan nasi kuning khas kota Sampit yang akrab dengan jargon Ikan Jelawat dan buah Nanasnya. Ada banyak semangat yang ingin mereka (Angkatan Muda Muhammadiyah) Kotim tunjukkan kepada masyarakat terutama bagi orang-orang yang hadir pada saat pembukaan, apalagi dengan hadirnya konsep tema yang semiotika yakni "Gerakan Pencerahan: Meneguhkan Bakti Kader untuk Umat dan Bangsa Menuju Kotawaringin Timur Bermartabat dan Berkemajuan".

Semangat untuk selalu berbenah dan menjalin silaturahim antar kader persyarikatan menjadi agenda utama dalam misi musyawarah ini, sehingga kursi-kursi tamu sudah dipersiapkan matang oleh panitia untuk menempatkan para tokoh Muhammadiyah dan senior di Ortom, dengan konsep ini semua menjadi satu dan saling merangkul, kebisingan dan saling dobrak-mendobrak berubah menjadi saling tegur sapa. Dukungan para tokoh Muhammadiyah begitu besar terlihat, mereka tidak memandang meriahnya pembukaan, mewahnya snack yang disajikan, besarnya aula yang ditempati, berapa banyak media yang meliput, tapi semangat ber-Muhammadiyah-lah yang menuntun mereka untuk hadir dalam cara pembukaan kali ini, hal ini juga sejalan dengan istilah yang diungkapkan Ayahanda Muchlas Abror bahwa "Hidup untuk Mengabdi" demi Muhammadiyah.

Kembali pada apa yang menjadi misi Pemuda Muhamamdiyah Kotim mulai bangun, jika berkaca pada keadaannya saat sekarang bisa dikatakan "kekurangan kader" hal ini jelas diungkapkan oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah Kotim dalam sambutannya, bahwa seharusnya Musyda ini dilaksanakan 2 tahun yang lalu, karena amanah seorang pemimpin bukan hanya pada pergantian kepemimpinan yang hanya sekedar simbolis melepas tanggung jawab namun hal terpenting adalah menyiapkan generasi-generasi penerus yang kedepannya siap untuk berkiprah dan berjuang dalam satu payung yakni Muhammadiyah. Penundaan ini jelas untuk hal yang lebih besar, alhasil tidak ada perjuangan yang sia-sia, kini Pemuda Muhammadiyah Kotim sampai pada masa kebangkitan dengan semangat berfastabiqulkhairat dan al-ma'un, telah hadir sosok-sosok baru yang siap mengemban tugas dan amanah di Pemuda Muhammadiyah, kader-kader yang mengerti dan paham tentang Muhammadiyah yang dulu, kini, dan nanti tetap akan berkata "aku bangga menjadi kader Muhammadiyah".

Jika halnya demikian tentang Pemuda Muhammadiyah, maka bagaimana dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kotim sendiri? Sudah tiga kali pergantian kepemimpinan di PC IMM Kotim, sederet kisah dan perjuangan telah mereka buktikan walaupun hanya sedikit yang terangkat media. Jika kita pernah merasakan perjuangan bersama IMM, maka tidaklah berlebihan ungkapan "IMM lahir sebagai gerakan kritis pelopor, pelangsung, penyempurna, sekaligus penjaga pergerakan Muhamamdiyah", karena usai namanya berganti di papan struktur kepengurusan IMM, maka kader IMM akan mengisi kekosongan baik di Pemuda Muhammadiyah bagi immawannya, dan Nasyiatul 'Aisyiyah bagi immawatinya. 

Banyak wacana yang lahir dikemudian pasca kegiatan ini, peta-peta pergerakan mulai dirancang, kader-kader yang ikhlas untuk berjuang mulai dirangkul, dan pengkaderan kian akan digalakkan. Menjadi agenda tersendiri untuk terus menyiapkan generasi-generasi yang kuat, sesuai dengan konsep tema "meneguhkan bakti kader", sebuah cita-cita mulai Angkatan Muda Muhamamdiyah Kotim di tahun-tahun berikutnya.

Apakah ini hanya sebuah konsep yang terhenti dalam level wacana? Jawabannya tentu tidak, memang sudah lama pergerakan itu muncul ke permukaan, semboyan mereka yang kuat dengan Laskar Al-Ma'un, tertatih-terjatuh dan bangkit perlahan mendirikan angkringan sederhana dengan konsep dakwah-kultural-intelektual namun mampu menyatu dengan segenap kalangan mendeskripsikan bahwa Angkatan Muda Muhammadiyah Kotim mampu bersinergi dan menjunjung tinggi kultur setempat. Pengajian-pengajian kecil yang rutin walaupun hanya dihadiri beberapa jamaah, ini sebuah simbol komitmen dan konsisten dalam berdakwah. Ibarat peribahasa "lain lubuk, lain pula ikannya", begitu juga halnya dengan pergerakan AMM di Kotim punya warna dan gaya tersendiri yang pada akhirnya akan bermuara pada Muhammadiyah itu sendiri.

Tidak banyak hal yang bisa penulis sampaikan dalam artikel sederhana ini, boleh dikatakan ini hanya gambaran sekilas yang penulis liat dari pergerakan kawan-kawan AMM Kotim. Melalui obrolan-obrolan singkat penulis dengan pelaku pergerakan AMM Kotim untuk kemudian saya coba tulis. Adagium sederhana sebagai penutup "ada rasa yang berbeda saat kita ikhlas berjuangan di dan bersama Muhammadiyah".

Yandi Novia
Ketua Umum DPD IMM Kalteng 
19 Maret 2016

#kotim #pdpmkotim #immkotim
#pemudamuhammadiyahkotim
#musdapdpm #muscabimm

Click to comment