Type something and hit enter

author photo
By On
Web Design Kalteng
BLOGGER KALTENG (Palangka Raya) - Tahun baru 2018 akan segera tiba, itu artinya tahun 2017 berakhir, ya kan. Dan itu artinya, tanggal akan dimulai dari bulan Januari. Semua harapan baru akan dimulai oleh orang-orang, rencana demi rencana mulai dirancang. Bahkan yang tidak pernah terlewatkan adalah perayaan tahun baru dengan pesta kembang api.

Kembang Api menjadikan perayaan tahun baru bertambah spektakuler dan menarik. Tapi tahukah kamu, ternyata kembang api berbahaya dan mempunyai efek buruk bagi lingkungan dan kesehatan.

Apa kata para ahli?
Seorang ahli kimia dan piroteknik Gunter Klien-Sommer, seperti dilangsir dari DW menjelaskan bahwa setiap roket kembang api teridri dari sekitar 75% poasium nitrat, arang 15% dan belerang 10%. Komponen lainnya juga ada kandungan senyawa tembaga, barium atau strontium. Komponen inilah yang menjadikan kembang api menghasilakan varian warna.

Federal Environment Agency (UBA) pada tahun 2016 memberikan penjelasan bahwa di Jerman, kembang api menghasilkan 5 ribu ton partikel (partikel PM10 berukuran kurang dari 10 mikron diameternya).

Debu beracun dari ledakan kembang api diproduksi dalam rentang satu atau dua jam selama ledakan. Terutama di area sekitar perayaan kembang api. Partikel debu kecil yang tidak terlihat oleh mata inilah yang sangat berbahaya bagi mata.

Banyak ahli kesehatan menyarankan agar orang-orang tidak langsung menghirup asap yang tertinggal setelah ledakan kembang api, hal ini dapat menyebabkan masalah pada pernafasan dan bagi kami yang mempunyai riwayat penyakit asma, maka akan memperparahnya.

Apa yang harus dilakukan?
Demi alasan kesehatan, cobalah untuk melihat ledakan kembang api dari jarak jauh. Sehingga tidak menjangkau debu dan asap dari ledakan kembang api. Menggunakan masker juga menjadi solusi untuk tidak langsung menghirup asap pada saat ledakan. Jika rasa khawatirmu lebih besar lagi, lebih baik untuk tidak ikut merayakan tahun baru dengan pesata kembang api. Tapi jika tidak, maka saran saya berhati-hatilah.

Debu Yandi | Blogger Kalteng

Click to comment