Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi

BAB I
LATAR BELAKANG LAHIRNYA
DAULAH FATIMIAH

A.    NASAB KHALIFAH FATIMIAH
Bani Fatimiah adalah keturunan Ubaidillah Al-Mahdi ibn Muhammad ibn Ismail ibn Muhammad ibn Ismail ibn J’far Ash-Shadiq. Mereka adalah keturunandari Fatimah putrid Nabi Muhammad saw. Oleh sebab itu, mereka terkenal dengan nama Fatimiyyun atau ‘Alawiyyun.

B.     TERBENTUKNYA DAULAH FATIMIAH DI MAGHRIB
Ubaidillah Al-Mahdi terlahir dengan nama Sa’id ibn Muhammad Al-Habib pada tahun 295 H, di kota Silmiah. Di mana pada waktu itu, kota ini menjadi pusat dakwah aliran Isma’iliyah.[1]
Pada tahun 270 H, ayah al-Mahdi yaitu Muhammad ibn Ismail mengirimkan salah seorang pengikutnya ke Yaman untuk berdakwah. Orang itu adalah Rusmtum ibn Husain ibn Faraj ibn Hausab Al-Kufi yang kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hausab. Berkat usaha keras dari Ibnu Hausab, tersebarlah aliran Syi’ah Isma’iliyah di Yaman. Dari Yaman, dikirimlah da’i-da’I ke berbagai kawasan; Yamamah, Bahrain, Sind, India, Mesir dan Maghrib (Maroko). Diantara yang dikirim adalah Abu Abdillah Asy-Syi’I, seorang dari Shan’a yang mendapat tugas dakwah di Maghrib. Dalam dakwahnya, Abu Abdillah mendapat sambutan positif. Maka dikirimkanlah utusan ke Silmiah, mengajak Ubaidillah Al-Mahdi agar berkenan hijrah ke Afrika (Maghrib).[2]
Ubaidillah Al-Mahdi menerima ajakan ini dengan senang hati. Tetapi rupanya usaha ini diketahui oleh penguasa ‘Abbasiyah, Al-Muqtadir (290-320 H). karenanya, dikirimlah perintah untuk menangkap Ubaidillah Al-Mahdi. Banyak hambatan dan rintangan yang dialami oleh Al-Mahdi dalam usaha hijrah ke Maghrib. Ia bahkan pernah ditawan ketika memasuki daerah Sijlamasah di Afrika yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Gubernur Ilyasa’ ibn Midrar.
Akan tetapi, berkat usaha para pemuka Syi’ah, akhirnya Al-Mahdi dapat dibebaskan pada tanggal 7 Rajab 297 H. Pada saat itu, pengaruh Abu Abdillah Asy-Syi’I di maghrib sudah kuat. Bahkan sudah berhasil menaklukkan beberapa daerah, antara lain; Rakadah. Daerah ini merupakan pusat pemerintahan Gubernur Bani Aghlab, penguasa yang diangkat oleh Bani Abbas (297 H).
Setelah bebas dari penjara, Al-Mahdi melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di Qairawan (Tunis), masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita dan dibai’atlah Al-MAhdi sebagai Khalifah. Nama Al-Mahdi selalu disebut dalam khutbah-khutbah serta mendapat gelar “Al-Mahdi Amirul Mukminin”.
Selanjutnya diaturlah pembagian kekuasaan yang berada dibawah kekuasaannya kepada para pendukungnya, yakni Bani Katamah. Mereka adalah para pendukung setia dan banyak membantu Al-Mahdi sehingga berhasil mendapatkan jabatan Khilafah.[3]
Dan diangkatnya Al-Mahdi sebagai Khalifah, maka berdirilah kerajaan Bani Fatimiah di Afrika dan sekaligus menjadikan kota Qairawan (Manshuriyah) sebagai Ibukota Negara.













BAB II
KEMAJUAN-KEMAJUAN
YANG DICAPAI DAULAH FATIMIAH DI MAGHRIB

A.    PERLUASAN DAERAH KE BARAT DAN TIMUR
Terkalahkannya Bani Aghlab oleh kaum Syi’ah merupakan langkah awal bagi perluasan wilayah kekuasaan baik barat maupun ke timur. Adapun barat, ialah kekuasan Bani Idris di Maghrib al-Aqsha (Maroko). Kerajaan ini diserangnya beberapa kali dan baru dapat ditaklukkan pada masa Al-Mu’iz Li Dinillah, Khalifah Fatimiah IV. Sehingga tidak ada lagi penghalang antara Qairawan dan Laut Atlantik. Sebab daerah-daerah di wilayah tersebut telah berhasil ditaklukkan.
Begitu pula dengan daerah-daerah timur. Misalnya Sijlamasah berhasil ditaklukkan. Selanjutnya ditaklukkan juga Tahirat (Maghrib al-susath) yang pada saat itu berada dalam kekuasaan Bani Rustum. Mesir diserang sampai pada tahun 358 H, Fustat dapat direbut dari tangan Bani Al-Ikhsyid. Dengan dikuasainya kota Fustat, maka jatuhlah Mesir kedalam kekuasaan Daulah Fatimiah.

B.     KEKUASAAN DAULAH FATIMIAH ATAS KAWASAN LAUT TENGAH
Sejak berdiri, Daulah Fatimiah mempunyai perhatian besar terhadap keberadaan dan pentingnya laut Tengah. Sebab bagi mereka, laut mempunyai andil yang sangat besar terhadap urusan militer, terutama dalam rangka konsolidasi terhadap gerakan bangsa Eropa (Kristen/Khatolik).
Untuk itu dibuatlah perahu-perahu yang kuat untuk kepentingan militer dan dibangun pula dermaga-dermaga sebagai tempat persinggahan armada-armada laut. Daulah Fatimiah juga menguasai pelabuhan-pelabuhan yang di anggap strategis untuk kepentingan politik. Oleh karena itu, di kuasailah Kepulauan Cilcilia kemudian dijadikan sebagai markas kapal-kapal perang.
Pada tahun 313 H dan 315 H, Al-Mahdi mengirim armada lautnya untuk menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Romawi, seperti; Uria, Sardinia, Calabria, Tarente, Otrente, bahkan sampai ke Neapolis (Napolis) di daratan Italia.




BAB III
KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN
 YANG DI DAPAT ATAS MESIR

            Setelah Mesir dikuasai, Daulah Fatimiah banyak mencurahkan perhatiannya kepada negeri yang baru ditaklukkan ini. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :

A.    LETAK GOEGRAFIS MESIR DIANTARA DUNIA ISLAM
Sebenarnya, Maghrib (Afrika) lebih tepat dijadikan lahan subur bagi gerakan Syi’ah dari daerah-daerah timur. Akan tetapi posisi Qairawan, kurang tepat apabila dijadikan sebagai pusat pemerintahan Daulah Fatimiah, Mesir telah dijadikan sebagai daerah sasaran untuk ditaklukkan. Karena disamping letak geografisnya yang sangat strategis, juga menguntungkan secara politis. Sebab para penguasa Mesir biasanya menguasai pula daerah Syam dan Hejaz. Dengan demikian, apabila mesir telah dikuasai, maka Syam dan Hejaz pun dapat dikuasai. Termasuk di dalamnya; Makkah, Madinah dan Damaskus yang merupakan pusat-pusat Islam. Selain itu, Mesir merupakan jalan utama untuk dapat menaklukkan Baghdad, pusat kekuasaan bani Abbas (Khulafah Abbasiyah).

B.     MESIR SANGAT TEPAT UNTUK DAKWAH SYI’AH
Mesir adalah wilayah yang subur dan relative lebih tenang dari pada wilayah timur yang kering dan penuh dengan gejolak, baik oleh pemberontakan di dalam negeri maupun oleh serang-serangan bangsa Romawi. Kemakmuran wilayah dan kestabilan politik ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mentebarkan faham Syi’ah.
Selain itu, Mesir juga relatif lebih dekat dengan pusat-pusat dakwah Islam, Hejaz dan Syam.

C.     KAIRO SEBAGAI IBUKOTA DINASTI FATIMIAH
Setelah Mesir, Syam dan Hejaz telah betul-betul dapat ditaklukkan, maka Al-Mu’iz segera menunjuk penggantinya, yaitu : Bulukkin ibn Zairi ibn Manad Ash-Shanhaji sebagai Kepala Pemerintahan di Maghrib. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu tanggal 22 Dzulqa’dah 361 H (September 972 M).[4]
Selanjutnya, Al-Mu’iz berangkat dengan membawa harta dan pasukan yang banyak serta membawa tiga kerangka tiga Khalifah pendahulunya.
Pada hari Sabtu, 23-7-363 H (973 M) Al-Mahdi bersama pasukannya sampai di Iskandariyah. Beliau disambut oleh para tokoh agama, pejabat dan penduduk Iskandariyah. Pada akhir bulan Sya’ban, Al-Mu’iz meninggalkan Iskandariyah menuju Kairo. Di kota ini telah dibangun gedung istana untuk Al-Mu’iz dan dikenallah kota ini sebagai “KAIRO AL-MU’IZ”. Kota ini pula yang kemudian menjadi ibukota Dinasti Fatimiah, menggantikan Qairawan.

BAB IV
CORAK PERADABAN DAULAH FATIMIAH
DI MESIR


A.    POLITIK DALAM NEGERI
Politik Fatimiah mengarah pada satu tujuan, yaitu usaha dengan segenap kemampuan agar umat manusia bermazhab dengan mazhab mereka dan menjadikan Syi’ah sebagai mazhab yang diikuti di segenap daerah kekuasaan Daulah.
1.      Politik Terhadap Nasrani dan Yahudi
Sejak Al-Mu’iz memegang tampuk kekhalifahan, telah tanpak sikap Khalifah terhadap Non Islam. Pada saat Al-Aziz (Khalifah IV) memperistri seorang Mojang Nahrani, maka bertambah dekatlah hubungan antara Khalifah dengan orang-orang Nashrani. Bahkan dua orang saudara istrinya (ipar) dikirim untuk mengepalai gereja di Iskandaria dan Baitul Maqdis (Darussalam).[5]
Begitu pula terhadap bangsa Qibti (Coptic) di Mesir, mereka diperkenankan kembali membangun gereja yang telah rusak di kota Fustat.
Al-Aziz mengangkat Isa ibn Nasturis sebagai salah seorang Menterinya. Sebagaimana Minasya (orang Yahudi) diangkat sebagai penguasa (wali) di Syam.
Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Isa maupun Minasya. Maka diangkatlah pejabat-pejabat non muslim dan ditempatkan di pos-pos tertentu dalam kekuasaan Daulah Fatimiah. Keadaan ini menimbulkan kebencian umat Islam kepada orang-orang Nashrani dan Yahudi. Bahkan banyak pengaduan dan protes disampaikan kepada Khalifah.[6]
Namun dibalik itu, sebenarnya orang Yahudi dan Nasrani masih dihinggapi oleh rasa harap dan cemas terhadap sikap Khalifah. Mereka mengkhawatirkan apabila sikap penguasa Fatimiah masih seperti sikap penguasa Mesir, Bani Ikhsyid.

2.      Politik Terhadap Sunni
Mencela tiga orang dari Khulafa’ ar-Rasyidin, yakni ; Abu Bakar, Umar dan Usman serta para sahabat lainnya merupakan makanan sehari-hari bagi orang Syi’ah (Fatimiah). Karena mereka dianggap sebagai musuh Ali ibn Abi Thalib ra. Mereka menghiasi masjid-masjid dengan ukiran yang bertuliskan puji-pujian kepada Ali. Di segenap masjid Mesir, hampir semua khatib melaknat para sahabat Rasulullah saw.
Para pegawai diwajibkan memeluk madzhab penguasa. Para hakim pun diharuskan memutuskan perkara berdasarkan pada Undang-undang yang berlandaskan madzhab mereka. Karena motivasi mencari pekerjaan, maka tidak sedikit orang Sunni beralih madzhab dan mengikuti kehendak penguasa. Tidak jarang pula orang dzimi (non muslim) menjadi Syi’ah karena ingin menjadi pegawai pemerintah.[7]
Puncak fanatisme Syi’ah ini dapat dirasakan pada saat Al-Hakim memegangkendali kekhalifahan (391 H). Ini terbukti dengan adanya penangkapan, penahanan dan pembunuhan terhadap para tokoh penganut madzhab Sunni. Demikian pula dengan adanya berbagai larangan, seperti; Shalat Tarwih, Shalat Dhuha, Qunut dan memuji kepada para sahabat.
Pada bulan Shafar 395 H (1004-1005 M), Al-Hakim memerintahkan agar dinding-dinding masjid, pasar-pasar dan pinggiran jalan-jalan umum ditulisi dengan kata-kata cacian terhadap para sahabat. Ini berlaku di seluruh penjuru Mesir.
Hal yang demikian ini menimbulkan kebencian yang sangat mendalam di kalangan kaum Sunni yang mayoritas.[8]

B.     POLITIK LUAR NEGERI
Politik luar negeri Daulah Fatimiah sejak awal berdirinya adalah politik Ekspansif dan sangat berambisi untuk merebut wilayah-wilayah yang berada dalam kekuasaan negeri lain. Politik ini dibuktikan dengan serangan-serangan kepada rezim-rezim di Afrika, bani Aghlab, Bani Idris, Bani Midrar, di Sijlamaka, Bani Rustum di Taharat, Ursy dan Mesir. Semua wilayah itu berhasil ditaklukkan.
Daerah-daerah timur, seperti : Syam, Palestina, Hejaz dan Yaman yang merupakan daerah sangat luas juga dapat ditaklukkan.
Kondisi seperti ini membuat para penguasa Daulah Abbasiyah di Baghdad tidak mau tinggal diam, merasa adanya ancaman yang sangat serius dari Dinasti Fatimiah. Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan kecil lain seperti : Bani Buwain, bani Saljuk, Bani Hamdan, bahkan kerajaan Islam di Andalusia-pun terpaksa mengkonsolidasikan diri untuk menghadapi agresi Daulah Fatimiah.
Adapun terhadap rezim Bizantium, maka Al-Aziz pada than 377 H mengirim armada lautnya untuk menyerang Romawi. Akan tetapi usaha ini belum membuahkan hasil, karena banyak kapal-kapal yang terbakar.

C.      SISTEM KETATANEGARAAN
1.         Kekhalifahan
Berdirinya Daulah Fatimiah di Maghrib merupakan hasil dari usaha yang sangat panjang dari kaum Syi’ah dalam upayanya mendirikan sebuah Negara. Dengan berbagai cara yang ditempuh, akhirnya mereka berhasil mendirikan kekhalifahan yang mampu menandingi Daulah Abbasiyah di timur.
Kekhalifahan Fatimiah didasarkan pada ajaran Syi’ah : bahwa para imam adalah ma’shum dan keyakinan bahwa merekalah yang paling berhak memegang tampuk kekhalifahan umat Islam, karena mereka adalah keturunan Ali ibn Abi Thalib ra, suami Fatimah binti Rasulullah saw.
Berdasarkan kepada semua ini, didrikanlah madrasah-madrasah khusus untuk mengajarkan aqidah dan doktrin-doktrin Syi’ah. Langkah ini selanjutnya diikuti oleh orang-orang Syi’ah. Langkah ini selanjutnya diikuti oleh orang-orang Syi’ah di daerah lain : Yaman, Persia, dan India.

2.         Administrasi
Dengan meluasnya wilayah, maka dikirimlah kesetiap daerah (provinsi) pejabat-pejabat yang berwenang guna menangani berbagai persoalan yang muncul. Daerah-daerah itu adalah : Damaskus, Bani Mardas, Bani Zairi di Afrika, Sicilia, Yaman, Makkah dan Madinah. Mesir yang saat itu menjadi pusat pemerintahan, dibagi menjadi empat wilayah administratip, yaitu :
a.       Wilayah Qush, termasuk; Asymuniyyin.
b.      Wilayah Timur, meliputi; Balbis, Qalyub dan Asymum.
c.       Wilayah Barat, yaitu; Mahalah, Manub dan Abyar.
d.      Wilayah Iskandaria, meliputi; kawasan Bahirah.
Para penguasa di empat wilayah ini diperkenankan memakai mahkota sebagai khalifah.
     Berbagai kantor didirikan, seperti; Kantor Administrasi Militer, Kantor Pos, Kantor Kepolisian, Kantor Pajak, Kantor Pengadilan. Dibuat juga Undang-Undang Mawaris dan Kantor Administrasi Pegawai.

3.         Dakwah
Sejak Daulah Fatimiah berhasil menguasai Mesir, segera ditempuh cara dakwah dan propaganda untuk kepentingan agama dan politik. Diantara usaha yang ditempuh adalah memanfaatkan masjid sebagai pusat pengajaran agama dan untuk menyampaikan informasi-informasi penting mengenai persoalan sosial dan politik.
Beberapa hari setelah Fustat ditaklukkan, didirikanlah Shalat Jum’at di Masjid Al-‘Atiq. Bertindak sebagai khatib saat itu adalah Hibatullah ibn Ahmad Khalifah. Sejak itu mulai dimasukkan ungkapan-ungkapan yang cenderung loyal dan memuji khalifah Fatimiah sebagai pengganti ungkapan pujian terhadap para Khalifah Abbasiyah
Pada tahun 359 H (970 M) ditambah kalimat :
dalam adzan. Pada waktu yang sama, Panglima Jauhar II memerintahkan agar Masjid Al-Atiq dicat dan diukir dengan warna hijau sebagai lambing semangat Syi’ah.
Semangat  dakwah semisal itu dilaksanakan di beberapa masjid yang lain, seperti masjid Jami’ Amru (Masjid pertama di Mesir), Masjid Jami’ ibnu Thalun, Al-Azhar dan AL-Hakim.
Bangunan monumental yang menjadi bukti sejarah Daulah fatimiah di Mesir adalah Masjid Al-Azhar yang didirikan oleh Panglima Jauhar (Kuasa Khalifah Al-Mu’iz di Mesir) pada tanggal 24 Rabi’ul Awwal 359 H, Masjid ini digunakan untuk Shalat yang pertama kali pada tanggal 7 Ramadhan 361 H.[9]
Pada saat Al-Mu’iz memasuki Kairo, keluarlah perintah agar tembok-tembok Mesir ditulisi dengan :




Dakwah juga dilaksanakan di kota-kota lain dan di rumah-rumah belajar. Bahkan dilakukan pengiriman para da’i-da’I ke luar negeri, antara lain ke Bahrain, Yaman, Irak dan Persia.
4.         Kebudayaan
a.                Al-Azhar
Meskipun pada awal mulanya adalah masjid, tetapi tidak lama kemudian menjadi sebuah Universitas yang didalamnya dipelajari berbagai disiplin ilmu dan didatangi oleh para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Adapun orang yang mula-mula mempunayi inisiatif untuk menjadikan Al-Azhar sebagai Universitas adalah Ya’qub ibn Kols, seorang berkebangsaan Yahudi yang selanjutnya masuk Islam.
Selanjutnya pada tahun 378 H, oleh Khalifah Al-Mu’iz, Al-Azhar diwakafkan untuk kepentingan ilmu. Maka jadilah Al-Azhar sebagai Universitas kebanggaan ummat sampai sekarang.

b.   Perpustakaan
Untuk menyebarluaskan dakwah dan memacu kemajuan, pada Khalifah dan menterinya berusaha untuk mendirikan perpustakaan yang besar yang dapat menampung kitab-kitab dan buku-buku ilmu pengetahuan. Akhirnya berdirilah Perpustakaan Al-Qasr yang merupakan perpustakaan terbesar di dunia Islam saat itu.

c.    Darul Ilmi (Lembaga Pendidikan)
Pada tahun 395 H Al-Hakim mendirikan lembaga pendidikan semacam “akademi” yang diberi nama :                                   ,banyak ulama dan praktisi berkumpul di lembaga ini. Sebab di lembaga ini terdapat perpustakaan                                dan tersedia segala fasilitas untuk kepentingan ilmu, seperti : kertas, pena, tinta dan keperluan lainnya.

D.       KESUSASTRAAN
Perlu diketahui, bahwa pada saat Daulah Fatimiah berkuasa di Mesir banyak menghasilkan para sastrawan. Diantara sastrawan yang sangat terkenal adalah Abu Hani’ (Abul Qasim, Muhammad ibn Hani’). Saat itu ia menjadi seorang sastrawan kebanggaan Al-Mu’iz. Hal ini bukanlah sesuatu mustahil, karena apabila kita mentelaah Diwan Abi Hani’, kita akan mendapatkan sebagian syainya berisikan pujian kepada khalifah. Diantara bait-bait puisinya, ada yang berbunyi :



Cahaya nan sempurna adalah engkau.
Cahaya-cahaya lain adalah kegelapan.
Ketinggian itulah engkau.
Segala ketinggian lain adalah kerendahan.

Masih banyak para sastrawan lain, misalnya : Abu Abdillah Muhammad ibn Abi Al-Jar’I, Abu Hamid Ahmad Al-Antoki, Al-Fadl ibn Shalih, Abdul Wahhab ibn Nash Al Maliki dan masih banyak lagi yang lain.

E.        FILSAFAT
Pemikir-pemikir yang terkenal pada masa Fatimiah adalah mereka yang bergabung dalam kelompok                                             di antara tokoh mereka adalah Al-Busti (Abu Sulaiman Muhammad ibn Nasr), Al-Zanjani (Abul Hasan Ali ibn Harun) dan Al-Mahrajani (Abu Ahmad).
Para cendekiawan lain diantaranya: Abu hatim Ar-Razi (322 H), Abu Abdillah An-Nasafi (331 H), Abu Ya’qub As-Sajzi (331 H), Abu Hanifah An-Nu’man Al-Maghribi (363 H), Ja’far ibn Manshur Al-Yamani, Hamiduddin Al-Karmain (408 H) dan Hibatullah Asy-Syairazi.
Sebenarnya masih banyak aspek lain sebagai fakta kemajuan yang dicapai oleh Daulah Fatimiah. Tetapi keterbatasan ilmu dan tenaga kami jualah yang membuat makalah ini sampai disini. Semoga keterbatasan ini tidak mengurangi sanjungan terhadap kebaikan Daulah Fatimiah. Semoga.



[1] Ibn Khalkan, Wafiyat al-A’yan, juz I, hal. 272.
[2] Arib Sa’id, Silat Tarikh ath-Thabari, hal. 52
[3] Hasan Ibrahim Hasan, Daulah Fatimiah, cet. II, 1958 M, hal. 83
[4] Ibnu Khalkan, juz II, hal. 117.
[5] Yahya ibn Sa’id, hal. 144-145
[6] Abu Syuja’, hal 186. Manu : Jewe in Egypt, hal. 19-20 dan Hasan Ibrahim Hasan, hal. 202
[7] Hasan Ibrahim Hasan, hal. 218
[8] Ibid, hal. 221
[9] Al-Muqrizi, hal. 273

Click to comment