Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi
Hembusan nafas Mu menjelma butiran-butiran embun malam yang turun satu persatu. Titik-titik sejuk yang lembut melayang di tengah kegelapan mahaluas. Tengah malam. Kota ini masih terjaga, tepat di paru-paru dunia, kota Cantik Palangka Raya, meringkuk berselimut entah itu musim dingin yang perlahan mencapai puncaknya atau keadaan cuaca sesaat sesudah hujan.

Aku terbangun. Mataku fokus memandang lemari yang tepat berada lurus di pandanganku, aku masih dalam posisi tidur sunnah Nabiku. Sesaat mataku terpicing. Aku menyelam di dalam lautan jiwaku yang gelisah. Siapa yang ku pikirkan?

Nafas Mu menyentuh ujung-ujung bulu mataku, membasahi kelopak mataku yang membengkak seperti permukaan kulit kerang yang tebal. Adakah Kau dapat merasakan gemuruh langit kelabu di dalam dadaku? Hujan yang turun di bulan Januari. Begitu senyap di luar, begitu bergejolak di dalam diriku.

Seperti gelombang laut yang meluruk masuk daratan berkilo kilometer jauhnya. Di desa Tanjung Jariangau, desa kelahiranku. Ya Allah, aku merindukan desa kelahiranku itu. Seperti apakah sosoknya sekarang setelah bencana itu? Aku merindukan setiap sudut desa yang ku kenal dan telah menjadi saksi akan aku saat ini. Ia menyaksikan aku tumbuh. Dari seorang anak kecil menjadi seorang laki laki dewasa, yang berani hidup di jantung Kalimantan Tengah untuk menimba ilmu. Desa Tanjung Jariangau ku, seperti apakah sekarang rupamu?

Oh, aku merindukan pemandangan Masjid Al Miftahun Jannah yang dulu begitu ku kenal, di penghujung jalan, dekat jembatan yang menghubungkan desa terpisah oleh aliran sungai Mentaya. Arsitekturnya yang sederhana dengan corak warna putih dan biru, disampingnya berdiri menara kayu ulin yang cukup megah bagi masyarakat di sana, menjadi pemandangan tersendiri bagi orang orang yang pertama memasuki desa melalui aliran sungai Mentaya di desa ku. Di belakangnya ada tempat wudhu, tempat favorit untuk ngobrol bersama teman sambil menikmati makanan dan memandang arah seberang desa.

Aku sangat merindukan Arsil dan Kartini, kedua orang tuaku, manusia mulia, yang telah membesarkanku dengan curahan kasih saying yang takkan mungkin dapat ku balas. Betapapun aku menyerahkan seluruh hidupku untuk membahagiakan mereka. Aku merindukan Bang Boni, saudaraku yang pertama, yang kini tengah berjuang untuk istri dan buah hatinya. Aku juga merindukan Bang Ehen saudaraku yang ke dua, sosok pemuda yang tak jelas kerjaannya, yang hanya menamatkan Sekolah menengah Pertama, entah apa yang ada dalam benaknya hingga ia memutuskan pendidikan saat itu, ia sosok pemuda yang kerap kali merasakan sedih yang tak berujung, karena hingga saat ini ia masih sendiri, padahal umur telah cukup untuk berkeluarga. Ke dua gadis kecilku, Gia dan Lia. Dua gadis berprestasi dan mandiri, sebagai titik tolak harapan dan semangatku, yang sebagai alas an kenapa aku harus berjuang , dibalik senyum mereka tersimpan sejuta cita, cinta dan asa yang maha dahsyat yang selalu menghujam dalam hati, berteriak aku harus sukses, aku harus sukses. Dan hingga kini, aku masih menanti siapa yang akan menyempurna dien ku, yang akan menggenggam separuh jiwaku, dan separuh jiwanya juga berada dalam genggamanku.

Ya Allah, apa yang terjadi denganku malam ini? Aku rindu, rindu mereka, sudi kiranya Engkau yang Maha Rahman dan Rahim menyelimuti dan selalu berada dekat dengan mereka. Kau lah tempat sebaik baiknya untuk menitip, ku titipkan mereka pada Mu. Jaga ke dua orang tuaku, agar selalu sabar dan tabah menjalani proses kehidupan, menghabiskan waktu mereka di tengah hutan belantara, tak pernah ku lihat barang seminggu mereka tak menyapa hutan, kenapa mereka selalu di sana? Yang ku tahu sejak kecil hingga saat ini, kedua orang tuaku selalu akrab dengan hutan rimba, mereka dulu dan kini masih petani. Robb ku, ingin ku rubah keadaan ini, dan ku mohon restui aku dan kesuksesanku kelak, karena hanya ini yang mampu merubah semuanya.

*** 

Malam semakin larut. Di luar, embun semakin deras turun. Pikiranku masih mengembara. Aku ingin pulang. Mengemas barang barangku sesegera mungkin. Memeluk orang orang yang ku cinta. Mungkinkah itu kulakukan sekarang? Oh..ayah bunda, sorot matamu yang mengingatkan pada rembang petang tatkala matahari bersiap tenggelam, membuatku sulit dan takkan pernah berputus asa, karena ku tahu ada sejuta doa yang selalu kalian minta pada Nya untuk ku di sini.

Sesekali saat aku pulang kampung, ayahku cerita. “Di tengah hutan, saat ayah dan ibumu, pulang kerja naik perahu, di padang rotan yang dulu kau pernah ikut ke sana. Rasa lelah yang teramat sangat saat itu, membuat ayah dan ibu tak kuat lagi untuk mendayung perahu. Seketika ayah melihat pohon besar menjulang masuk kea rah sungai, dan ayah teringat, di pohon itulah kamu dulu duduk pada saat istirahat makan siang. Dan ayah berucap pada ibumu, di sinilah anakmu dulu sering duduk waktu istirahat makan siang. Seketika semangat ayah dan ibu kembali”. Tak terasa air mataku menetes, mendengar kisah ayahku. Oh..begitu besar cinta kasih mereka padaku.

***

Langit masih gelap di luar sana. Sementara aku masih terdiam. Hingga seketika lamunanku sampai pada ayah dan bundaku, seakan aku melihat wajah mereka yang tengah tidur, wajah lelah mereka yang seharian bekerja. Oh..air mata ini deras tak tertahan lagi, hingga membasahi pembaringanku. Dengan gagapnya aku terus meraba, mencari dompetku, yang di dalamnya ada foto ayah dan bunda. Seketika aku memandang wajah mereka, terlukis indah senyum yang kuat masuk dalam memori otakku, jatuh ke dalam hati, menjadikan hidupku kembali bersemangat. Ku peluk foto ayah bundaku, sembari angan ku terus berada di antara mereka, sehingga aku merasa dekat dan dalam pelukan mereka. Hingga rasa dingin malam itu tak ku rasa, suasana menjadi hangat. Sedikit demi sedikit, mataku terpejam, sementara tanganku masih mendekap di atas dada memeluk erat foto ayah dan bunda. Akhirnya malam itu, kehangatan dan kedamaian ku rasa. Ayah ibu, tunggu anakmu pulang dengan kesuksesannya. Amin.

Masih terjaga
Menunggu adzan subuh
Selasa, 07 Januari 2014

Click to comment