Type something and hit enter

author photo
By On
advertise here
Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering menjadi amukan emosi oleh seseorang yang paling dekat denganku. Sebut saja namanya Embun. Dia menyebutnya bukan emosi atau amarah, tapi sangkal. Padahal 17:18 sih, kalau jauh lebih diteliti. Awalnya sangkal ujung-ujungnya marah jugakan?
Banyak kesalahan-kesalahan kecil yang ku lakukan berujung pada pertengkaran, kadang aku hanya diam dan bilang iya dan maaf. Sebesar apapun kesalahanku, aku tahu dia akan memaafkan, yaa walaupun harus menunggu beberapa menit (digaris bawahi; beberapa menit saja), kalau aku yang marah harus menunggu lama (kurang lebih 1-2 jam).
Banyak hal yang kesalahan lakukan berawal dari kata “nanti” atau “entar” dan “santai”, kata-kata ini menjadi darah daging yang sulit untuk ku lepas, menjadi sebuah kebiasaan. Dalam hidupku, kata “deadline” itu adalah hal biasa. Dan sering berujung pada kematian “dead”, karena waktu yang tak mampu ku kendalikan.
Embun mengajariku betapa kata “nanti” atau “entar” dan “santai” tak seharusnya ku ucapkan, tak seharusnya menjadi kebiasaanku. Sungguh merugi diriku yang biasa dengan kata-kata itu, aku sering merasa dikejar, merasa dibuntuti, merasa dibebani, merasa gamang yang luar biasa, yaa karena kata-kata itu.
Pekerjaan yang seharusnya ku kerjakan dan ku selesaikan sekarang, harus ku jawab “nanti” , “entar” dan “santai”, hingga akhirnya aku menjadi orang yang merugi.
Belajarlah dari kesalahan dan kegagalan ku kawan, tak banyak waktu untuk kita perbaiki, kita selalu berada diujung batas jurang, tak ada jalan lain selain melompat. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua.
Yukk…ela lalau laya..


Click to comment