Type something and hit enter

author photo
By On
advertise here
Ada sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan, menyesal itu selalu didepan, gak mungkinkan kita menyesal atas apa yang belum terjadi kecuali itu mimpi, lagi pula mimpi juga udah terjadi. Tapi ada menyesal itu dibelakang, ada seorang gembala yang nyesal berada dibelakang sapi, karena ketika ia berada dibelakang sapi, ditendang sapi, jadi ungkapnya “Saya Menyesal di Belakang”.

Tapi itu hanya humor, dan pastinya pembaca tak tertawa dengan humor yang saya tulisan barusan. Karena tujuan saya bukan untuk ngelawak, menandingi orang yang sudah ahlinya sebut saja Raditya Dika, Abdur, atau Dzawin.

Siapa yang tidak pernah menyesal dalam hidupnya? Semua orang pasti pernah menyesal, termasuk saya, dan anda yang sedang membaca tulisan ini. Penyesalan terbesar bagi seorang laki-laki lajang atau perempuan lajang, ABG labil, adalah ketika ia meninggalkan seseorang padahal seseorang itu baik untuknya, usut-usut pengen nyari yang sempurna, ujung-ujungnya “sempurna juga sih, sempurna sakitnya dan galaunya”. So, berpikir matang-matang sebelum bertindak itu wajib hukumnya, agar tidak terjadi penyesalan. Lebih parah lagi, mau kembali ditolak. Beda dong dengan nasib saya, semua perlu perjuangan kawan. Jangan pernah berhenti, ingat “No Pain, No Gain”, Manjadda Wajada.

Menyesal itu manusiawi, itu artinya kita normal. Pertanyaan selanjutnya bagaimana menjalani hidup tanpa ada kata menyesal? Cukup sulit memang untuk dilakuin, apa lagi penyesalan itu identik dengan sebuah kesalahan.

Sekarang, cobalah kita luruskan kembali kenapa penyesalan itu terjadi dan apa penyebabnya dahulu kita melakukan sebuah kesalahan. Seperti kata  Pak. Mario Teguh, malas itu hanya akibat, sehingga pemecahannya adalah mencari sumber penyebab kita malas. Begitu juga dengan “penyesalan”, stop terpuruk dengan penyesalan, adanya anugerah masa depan itu untuk memperbaiki segalanya. Walaupun kita tidak mampu kembali ke waktunya, namun kita punya seribu bahkan lebih pelajaran yang dapat diambil dari sebuah kesalahan.


Jadikan penyesalan itu sebagai ujung tombak perubahan pada diri dan sistem kehidupan kita sehari-hari. Kadang Tuhan menegur dan mengajrkan kita dari sebuah kesalahan yang kita lakukan. Jadi bijak itu mudah ko, cukup belajar, perbaiki, jangan diulangi, dan masa depan kita akan lebih baik. [debuyandi]

Click to comment