Type something and hit enter

author photo
By On
debuyandi

BLOGGER KALTENG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palangka Raya pada September 2015 lalu menggelar workshop Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Pendidikan Inklusif, dengan tujuan untuk membangun persepsi dan komitmen stakeholder terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif yang ramah dengan tidak diskriminatif pada anak berkebutuhan khusus.

Mungkin masih segar diingatan kita bersama pada Sabtu (18 Oktober 2014) Pemerintah Kota Palangka Raya melakukan pencanangan "Kota Palangka Raya Sebagai Kota Pendidikan Inklusif", bahkan grand design program inipun telah mantap dipersiapkan. Melalui program ini Pemerintah Kota Palangka Raya juga berharap sebagai uji coba menuju cita-cita menjadi salah satu kota pendidikan di Indonesia.

Sebagaimana diketahui pendidikan inklusif diartikan pendidikan yang berusaha menjangkau semua orang tanpa kecuali, hal ini dapat pula diartikan sebagai upaya meningkatkan kesempatan dan pemerataan bagi seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dan berkualitas.

Menindaklanjuti program ini, Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya membentuk Kelompok Kerja (PokJa) Pendidikan Inklusif, dengan visi mewujudkan kualitas pendidikan di Kota Palangka Raya yang unggul melalui Pendidikan Inklusif dengan memprioritaskan 5 (lima) misi utama yakni: 

Pertama, optimalisasi perluasan dan pemerataan akses kesempatan memperoleh pendidikan yang ramah, bermutu, berdaya saing dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta berwawasan kebangsaan berdasarkan imtaq dan iptek. 

Kedua, membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik secara holistik (menyangkut semua aspek kecerdasan siswa). 

Ketiga, meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang berbudaya inklusif (menghargai setiap perbedaan, saling bekerjasama, menghormati dan tenggang rasa).

Keempat, meningkatkan keprofesionalan dan akuntabiltas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap, berdasarkan standar nasional. 

Kelima, memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan ramah, bermutu, adil, dan tanpa deskriminatif.

Hingga tahun 2026 program pendidikan inklusif diharapkan mampu menjadikan pendidikan di Kota Palangka Raya ramah, adil tanpa diskriminatif. Hal ini dapat dicapai melalui indikator keberhasilan sebagaimana tujuan dan sasaran yang telah dirancang oleh Pokja Pendidikan Inklusif Kota Palangka Raya, yakni: 

Pertama, meningkatkan daya serah pelayanan pendidikan inklusif di seluruh Kecamatan di Kota Palangka Raya. Kedua, terlaksananya Perwalian Pendidikan Inklusif Kota Palangka Raya.

Ketiga, meningkatkan APK, APM, dan APS sudah di atas rata-rata nasional. 

Keempat, meningkatkan prosentase wajib belajar pendidikan dasar, didorong oleh banyaknya anak-anak berkebutuhan khusus yang terlayani di sekolah diseluruh kota di Palangka Raya.

Kelima, tersedianya sarana dan prasarana aksesibilitas pendidikan (gedung, peralatan kantor, laboratorium, dan sarana penunjang) di seluruh wilayah Kota Palangka Raya.

Keenam, memiliki tenaga-tenaga terdidik yang berwawasan global dan berdaya saing nasional dan internasional, sehingga dapat menjalin komunikasi dan hubungan internasional sebagai bagian dari masyarakat internasional.

Selanjutnya sasaran dan indikator sasaran kebijakan pendidikan Inklusif di Kota Palangka Raya tersusun dalam lima tahunan dengan berbagai asumsi serta kombinasi pendekatan bottom up dan top down dengan keterlibatan pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Pendekatan top down mengandung makna bahwa perencanaan memperhatikan pula ketersediaan anggaran sesuai dengan estimasi APBN dan APBD. Dari sisi pelaksanaan pendekatan bottom up dilakukan untuk memperoleh gambaran kebutuhan pendanaan guna mewujudkan kondisi ideal.

Harapannya, semoga kita semua turut serta dalam proses pencapaian apa yang menjadi target pelaksanaan Pendidikan Inklusif, sehingga program ini tidak hanya sebagai simbol kota tanpa ada sebuah gerakan (kesungguhan untuk mewujudkannya). Mungkin sebagian kalangan masyarakat mempertanyakan apa yang menjadi ukuran keberhasilan dan keberlangsungan dari program ini? Jika seandainya yang kita maksud adalah "selama ini apa yang sudah terealisasi" mungkin kita masih mencari-cari jawaban dari realita yang ada. Sesuai dengan amanat dari pergerakan program ini "butuh kerjasama semua kalangan untuk mewujudkannya" maka tidak salah jika kita semua mengambil peran dan turut mendukung demi cita-cita bersama.

Sumber Bacaan :
www.palangkaraya.go.id
www.pokjainklusif-kotapalangkaraya.com

#debuyandi 
#blogger #bloggerkalteng
#pendidikan #palangkaraya

Click to comment